Kamis, 30 Juli 2015

......

lenganmu telah patah
kakimu pun remuk
kini hidungmu jadi pijakan
menopang seluruh badanmu
dan beban hidupmu

kau tak kenal meraba
tak kenal menginjak
karena tangan dan kakimu
tak lagi berkata

tetapi senyum di wajahmu tak pernah surut
sejuk mengalir ke dalam relung

(lupa bikinnya kapan)








Sabtu, 19 April 2014

Purnama Ke(c)emasan 

Bulan bersolek walau tak sempurna 
Menusuk-nusuk dinding
Mengetuk jendela 
Mengantar sebingkis dosa 
Mengingatkan salam neraka  

Gaduh..
Kututup telinga
Sengaja kuabai walau mendesak
Sebab kutahu, dia hanya datang bawa cemas
Menggenggam ketakutan di balik punggung cahaya
Seperti dulu.. Selalu 

Mengingatkan mereka, 
penghuni neraka itu..
tetap saja sahut-sahutan menertawai.
Memanggil-manggil, seolah hendak menyambut tetamu 
Pesta pora.. 
Huh, biadab kalian! 

Lalu aku hanya duduk, bersandar. 
menganggap kegaduhan itu sepi
Memandang tarian mereka 
Yang berhembus kembali
Tarian dingin pengantar pagi 
Sunyi, Dan tak akan lama pergi
Seperti dulu,,Lagi

1404014

Minggu, 02 Februari 2014

otak seperti kotak
mengotak atik tengkorak
menukik
menekuk
berlarian sajak-sajak

lalu diam dalam-dalam
menggigil lemah kusam
memeluk serakah malam
mengusir bayang kelam

01014

karena kau adalah sunyi itu sendiri
bukan jazadmu, tapi sunyi itu buyimu
seperti sakit lambat-lambat membunuh
seperti pisau menancap di igamu
seperti kamu itu aku
seperti aku itu kamu

tak meliat
tak merasa

2013

makan

gontai kotaku seumpama wajah murung memaksa senyum 
penuh aliran sungai darah meliuk di jembatan dan jalan
mencoba riang dengan gelombang
hanyut bersama sisa nasi di tong sampah

dan anak-anak tak bercelana itu
pulas di atas karung goni bergambar palu
berlukis arit
bermimpi masa depan tak berduri
menanti revolusi
benar-benar revolusi
walau menghukum diri

membunuh penghamba tuan 
penjilat tuhan
penghisap kasihan
demi makan
makan
makan

11092013

Selasa, 01 Oktober 2013

Pelangi-Pelangi

Hujan reda
Sang pelangi bersolek
Bersarung merah, kuning, hijau.
Menutupi tubuhnya yang hanya awang-awang

Melengkung
Seperti kuas dilumuri cat,
Menggaris di atas langit angan-angan
Lalu ujungnya jatuh ke bumi
Hendak menjemput bidadari

Di manakah bidadari?
Ujung sarung pelangi terus mencari
Mengikuti irama angin
melewati asap arang sisa pesta jagung tadi malam

Pelangi terus mencari,
Mencari, dan mencari

Di manakah bidadari?
Batu membisu
Sungai tuli
Tanah
Akh..bidadari!
Mari pulang
Mana ada Pelangi menantang malam!

jkt 14-Agustus 2013

Sabtu, 23 Februari 2013

Hinaan Serdadu Tua


Caci maki bukan kematian. Hinaan bukan pula laknat. Mereka hanya serdadu tua. Tubuh tambun dengan kumis tebal bergetar. Siaga pelor timah di selonsong bedil bekas perang.

Cobalah tersenyum, meski si besi tua hanya menggantung alis. Perlihatkan gigimu. Lalu basuh wajahmu dengan gertaknya. Bisikkan ke telinganya;  betapa kecilnya biji kemaluanmu!.

Lalu pukul dia dengan uletmu, tinju dia melalui idemu, dan bunuh dia pada kecerdasanmu. Ingat! nafas adalah lubang jarum bila kamu kalah. Hidup itu kematian bila mengabaikannya.

jakarta
28012013