Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

kepada perempuanku

aku tersungkur di punggung kakimu bersimpuh.. seperti salat jumat tempo hari.. khusyuk memohon ampun berharap mewakili tuhan kau mengabulkan doa-doaku aku memang potret buram di dasar hatimu rapuh guratannya walau kau tak bosan kembali melukisnya alurku belukar hilang ruang dalam susunan peta ptolemaeus gemar tak tahu arah bodoh menafsirkan perasaan hatiku berjamur bagai ayat-ayat mutasyabiah sarat elemen perbedaan dungu... menerjemahkan cinta dan emosi sesaat.. lalu kucium jemari kakimu persis disaat ku hendak meninggalkan ibuku mengantar beribu bait kalimat penuh kesah berbalut sesal menunggu vonis hukuman darimu mengangkat wajahku sedetik lalu berucap.... "maaf bila bibirku lebih dulu menempel di dadamu.. mendahului anak-anakmu." jakarta2702011 trisuharman

sebingkis sepi untuk sunda kelapa

semilir muson timur mengantar kita mengarung dari paotere ke sunda kelapa membawa salam kesepian para janda korban perang untuk tubuh prajurit pasrah menggantung pedang kita melenggang.. menerobos liat samudera rebah di buritan perahu kelana berselimut bau lumpur pekat lautan kita tersenyum....... tatkala percikan ombak menusuk-nusuk punggung kita mencolek pinggang kita sekenanya meremas pundak kita menggenggam perih... namun menggelikan meregang gairah saat bergumul di tanah Makassar walau tak sadar kaki mencium pantai sunda kelapa tersengat aura kejayaan maharaja purnawarman meliku di batu prasasti tarumanagara lalu kusampaikan sebingkis salam janda korban perang kepada para kuli panggul bekas bawahan sultan Jakarta 2602011 trisuharman

Di Antara Surah Yasin

paling tidak... kita tak selamanya bersembunyi dalam gelap.. menjadi penyembah kenikmatan sesaat kita akan memantik cahaya mengubur pekat nan lekat mengucapkan salam perpisahan di antara surah yasin dan bau tanah pemakaman untuk kembali mereguk kesucian melafalkan puja-puji para hafiz menanti panggilan muadzim Jakarta 0402011 trisuharman

Lelaki Terusir

tertidur dalam keadaan tak waras sehabis bercengkrama dengan arak kau terlunta memeluk kebisuan kepalamu beralas tangan rebah diatas kardus bekas yang tipis nan lembab lalu kau lelap dalam mimpi yang tenang walau sayup-sayup kau memaki dalam igauan.. nafasmu terengah ... dengkuranmu memecah kesunyian mengusik para begundal yang senang menantang malam membuat mereka memilih hengkang sambil mengumbar cacian tapi kau tetap lelap... kau lelaki terusir yang tak lagi menginjak rumah.. sebab harapmu tak lagi berada di sana walau kau sering merindukannya sehabis pagi membunuh sang malam.. Jakarta 202011 trisuharman