Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Pelangi-Pelangi

Hujan reda Sang pelangi bersolek Bersarung merah, kuning, hijau. Menutupi tubuhnya yang hanya awang-awang Melengkung Seperti kuas dilumuri cat, Menggaris di atas langit angan-angan Lalu ujungnya jatuh ke bumi Hendak menjemput bidadari Di manakah bidadari? Ujung sarung pelangi terus mencari Mengikuti irama angin melewati asap arang sisa pesta jagung tadi malam Pelangi terus mencari, Mencari, dan mencari Di manakah bidadari? Batu membisu Sungai tuli Tanah Akh..bidadari! Mari pulang Mana ada Pelangi menantang malam! jkt 14-Agustus 2013

Hinaan Serdadu Tua

Caci maki bukan kematian. Hinaan bukan pula laknat. Mereka hanya serdadu tua. Tubuh tambun dengan kumis tebal bergetar. Siaga pelor timah di selonsong bedil bekas perang. Cobalah tersenyum, meski si besi tua hanya menggantung alis. Perlihatkan gigimu. Lalu basuh wajahmu dengan gertaknya. Bisikkan ke telinganya;  betapa kecilnya biji kemaluanmu!. Lalu pukul dia dengan uletmu, tinju dia melalui idemu, dan bunuh dia pada kecerdasanmu. Ingat! nafas adalah lubang jarum bila kamu kalah. Hidup itu kematian bila mengabaikannya. jakarta 28012013

aku, kita, mereka

Penyesalan itu biadab. Seperti daun pintu bergetar, ketika kau tinggal cerita di pagi buta. Dan aku gagal menutup celah kamar dari jilatan mentari. Bersama hilangnya guratan wajahmu dari alur hidupku. Tiada surga di sini dan jangan berharap neraka. Di kamar ini, tinggal hampa dan fatamorgana. Lalu aku menanggap semua adalah kaya. Samar adalah emas, temaram itu permata. Namun kaya tak berarti pula, karena di sini adalah orang-orang terkutuk. Mereka bayang-bayang. Makananya keegoisan, pakaiannya ketamakan, perangainya kemunafikan. Dan aku adalah mereka. Jakarta 10 Januari 2013

...

Kebencian mengalir ke sungai sunyi Dalam kotak kobaran api Di matamu nan coklat Aku terbaring lemas Menunggu peluru kau tumpahkan, ke dadaku walau merindu Tak perlu lama, aku telah mati dalam kedipanmu bersama bercak-bercak malam Arwahku berkali-kali telanjang Tetapi kau tak pernah bisa kutelanjangi hanya fana, itulah dirimu Seumpama nyanyian Kau bersarang di belakang daun telingaku Meski kuiris dengan keputusasaan gendang telinga gontai mengirim suaramu Dan kau telah menghapus memoriku 10012013 tri suharman