Postingan

Purnama Ke(c)emasan 

Bulan bersolek walau tak sempurna  Menusuk-nusuk dinding Mengetuk jendela  Mengantar sebingkis dosa  Mengingatkan salam neraka   Gaduh.. Kututup telinga Sengaja kuabai walau mendesak Sebab kutahu, dia hanya datang bawa cemas Menggenggam ketakutan di balik punggung cahaya Seperti dulu.. Selalu  Mengingatkan mereka,  penghuni neraka itu.. tetap saja sahut-sahutan menertawai. Memanggil-manggil, seolah hendak menyambut tetamu  Pesta pora..  Huh, biadab kalian!  Lalu aku hanya duduk, bersandar.  menganggap kegaduhan itu sepi Memandang tarian mereka  Yang berhembus kembali Tarian dingin pengantar pagi  Sunyi, Dan tak akan lama pergi Seperti dulu,,Lagi 1404014
otak seperti kotak mengotak atik tengkorak menukik menekuk berlarian sajak-sajak lalu diam dalam-dalam menggigil lemah kusam memeluk serakah malam mengusir bayang kelam 01014
karena kau adalah sunyi itu sendiri bukan jazadmu, tapi sunyi itu buyimu seperti sakit lambat-lambat membunuh seperti pisau menancap di igamu seperti kamu itu aku seperti aku itu kamu tak meliat tak merasa 2013

makan

gontai kotaku seumpama wajah  murung memaksa senyum  penuh aliran sungai darah meliuk di jembatan dan jalan mencoba riang dengan gelombang hanyut bersama sisa nasi di tong sampah dan anak-anak tak bercelana itu pulas di atas karung goni bergambar palu berlukis arit bermimpi masa depan tak berduri menanti revolusi benar-benar revolusi walau menghukum diri membunuh penghamba tuan  penjilat tuhan penghisap kasihan demi makan makan makan 11092013

Pelangi-Pelangi

Hujan reda Sang pelangi bersolek Bersarung merah, kuning, hijau. Menutupi tubuhnya yang hanya awang-awang Melengkung Seperti kuas dilumuri cat, Menggaris di atas langit angan-angan Lalu ujungnya jatuh ke bumi Hendak menjemput bidadari Di manakah bidadari? Ujung sarung pelangi terus mencari Mengikuti irama angin melewati asap arang sisa pesta jagung tadi malam Pelangi terus mencari, Mencari, dan mencari Di manakah bidadari? Batu membisu Sungai tuli Tanah Akh..bidadari! Mari pulang Mana ada Pelangi menantang malam! jkt 14-Agustus 2013

Hinaan Serdadu Tua

Caci maki bukan kematian. Hinaan bukan pula laknat. Mereka hanya serdadu tua. Tubuh tambun dengan kumis tebal bergetar. Siaga pelor timah di selonsong bedil bekas perang. Cobalah tersenyum, meski si besi tua hanya menggantung alis. Perlihatkan gigimu. Lalu basuh wajahmu dengan gertaknya. Bisikkan ke telinganya;  betapa kecilnya biji kemaluanmu!. Lalu pukul dia dengan uletmu, tinju dia melalui idemu, dan bunuh dia pada kecerdasanmu. Ingat! nafas adalah lubang jarum bila kamu kalah. Hidup itu kematian bila mengabaikannya. jakarta 28012013

aku, kita, mereka

Penyesalan itu biadab. Seperti daun pintu bergetar, ketika kau tinggal cerita di pagi buta. Dan aku gagal menutup celah kamar dari jilatan mentari. Bersama hilangnya guratan wajahmu dari alur hidupku. Tiada surga di sini dan jangan berharap neraka. Di kamar ini, tinggal hampa dan fatamorgana. Lalu aku menanggap semua adalah kaya. Samar adalah emas, temaram itu permata. Namun kaya tak berarti pula, karena di sini adalah orang-orang terkutuk. Mereka bayang-bayang. Makananya keegoisan, pakaiannya ketamakan, perangainya kemunafikan. Dan aku adalah mereka. Jakarta 10 Januari 2013