Rezeki Jinak-Jinak Merpati

Baru saja saya menerima tawaran yang menarik dan juga menantang. Tawaran yang memungkinkan saya memperluas pengalaman dan mempertajam keahlian di pucuk negeri.

Sesuatu yang saya harapkan datang di suatu masa. Masa ketika saya benar-benar siap untuk menerima dan menjalankan tantangan ini. Masa di mana bahtera yang saya bangun benar-benar siap untuk berlayar di laut yang luas dan berbahaya.

Bagi saya, tantangan ini sangat dinamis, penuh liku dan duri, dan memungkinkan saya berada di medan perang terbuka. Banyak hal yang bisa terjadi baik secara kasat maupun mungkin tak kasat; politik, intrik, dan bukan sihir tentunya hehe.

Saya memang senang dengan tantangan sejak dulu. Flashback waktu saya masih remaja, saya ditantang oleh teman-teman menuruni jalan yang curam nan tajam dengan bersepeda. Tanpa ragu sepeda saya ayun meluncur hingga terguling. Membuat saya jatuh ke jurang belasan meter. Ban sepeda berbentuk delapan dan badan penuh luka. Tapi saya lega dan merasa senang.

Namun saya kini sudah dewasa, memasuki usia 40, dengan tanggung jawab yang tentu tidak bisa diabaikan. Tanggung jawab Ini bukanlah batu sandungan, tapi soal memilih prioritas saat dewasa.

Setelah merenung, mencari informasi kiri dan kanan, diskusi dengan keluarga, serta salat istikhara, saya memutuskan untuk tidak mengambil tantangan itu. Begitu banyak pertimbangan yang mendasari saya tidak mengambilnya. Mulai dari isu keberlanjutan, situasi yang dinamis, ekonomi, serta tentunya tanggung jawab terhadap keluarga.

Saya berdoa semoga keputusan ini yang terbaik. Kalaupun ada penyesalan di kemudian hari saya bisa menerimanya dengan baik dan lapang dada. Bagi saya rezeki seperti peribahasa “jinak-jinak merpati” Dia tak takut mendekat, tapi butuh usaha dan kesabaran untuk menangkapnya.


Tri

22 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Veteran Tua Lelah Usia

2025 DADA DADA SAYONARA!

Metodologi dan Metode serta Konsep Kebahagiaan