Menyebut nama Tuhan dia merintih. Suaranya gemetar, semakin pelan, lalu hilang. Kemudian merintih lagi, sambil sesekali memanggil cucunya. "Baya...Bayaaaa...". Di balik sarung coklat kusam, ia seperti seonggok tulang yang dilapisi daging tipis. Kulitnya lentur seolah meleleh di pembaringan.Mulut yang tak lagi dihiasi gigi, menganga seakan ingin memuntahkan hikayat yang selama 129 tahun membebaninya. Sudah setahun terakhir, Hamasia tergolek lemas di kamar kecil yang berbau pesing itu. Kamar berlantai bambu diatas rumah panggung yang terletak di Lakkading, Kelurahan Mosso, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Sekitar 360 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Cahaya yang merobek celah dinding seng kamar tak ia hiraukan, sebab kedua matanya menyerah terhadap keindahan. Hanya memandangi kegelapan sejak 15 tahun lalu. Kedua kakinya ditekuk, kaku tak berdaya. Ia tak lagi bisa mengikuti cara salat seperti layaknya orang normal. Hanya berbarin...
2025 jadi tahun yang plot twist bagi saya yang usianya menginjak kepala orang. Secara fisik, badan mulai menunjukkan tanda-tanda kejompoan yang hakiki. Bayangkan, gigi untuk pertama kalinya dicabut karena sakit. Dan ternyata sakitnya ngadi-ngadi, naudzubillah beneerr. Pantas ada lagunya; lebih baik sakit hati daripada sakit.., eh kebalik ya? wkwkw Belum kelar urusan gigi, badan mudah drop karena kecapekan. Cemen lah pokoknya wkwk. Yang paling epic, usia segini saya kena CACAR wkwkw. Kacau benar dah. Malu-maluin! Urusan kerjaan, jangan di tanya lagi. Definisi nongkrong bergeser; dulu nongkrong untuk haha-hihi, kini nongkrong buka laptop, dahi mengkerut. Kalau tidak nyambi kerja, ya, siap-siap saja kena mental karena kerjaan numpuk. Peeening-peeeninglah pokoknya. Paling absurd itu soal emosi. Dulu cam peletakan mercon gampang meledak, kini melempem cam ayam kesiram air es wkwk. Terkejut abang terheran-heran! Puncaknya adalah “Tragedi Jus Alpukat di Siang Bolong”. Jadi, ceritanya begini, ...
Dalam teori spiral of silence (spiral keheningan), Elisabeth Noelle-Neumann menyoroti kecenderungan orang untuk tetap diam ketika mereka merasa pandangan mereka berbeda dengan opini mayoritas. Kondisi ini tak lepas dari peran media yang saat teori ini dibuat sekitar 1974, masih berputar pada media tradisional yang sifatnya “oneway” atau searah. Misalnya televisi maupun koran yang mendominasi ruang informasi. Namun, kini kita berada di ruang digital yang sangat dinamis. Bahkan sangat berisik. Sehingga memunculkan pertanyaan, di era media sosial yang terfragmentasi, apakah kita masih takut pada “suara mayoritas”? Seperti itulah yang dibahas dalam mata kuliah Advance Research Methodology bersama Prof Ahmad Mulyana pada Sabtu 28 Juni 2025. Ia menjelaskan tentang penelitian teranyarnya tentang seseorang yang dulunya termasuk dalam kategori minoritas dalam beropini_karena lebih termotivasi menyesuaikan diri dengan opini mayoritas_berubah menjadi mayoritas. Situasi ini memungkinkan di duni...
Komentar
Posting Komentar